Thursday, 19 January 2017

#17 Menolak Lupa

Credit: Pinterest/Redtwine


“Sas, apa penyakit yang paling kau takuti?” Tanyaku tiba-tiba.
Saskia meletakkan ponselnya dan menatapku tajam. 

Cancer.” Jawabnya singkat, lalu ia beralih lagi menatap layar ponselnya, jemarinya terus menari di layar touchscreen untuk membaca Line Today. Ia masih belum menyadari bagaimana ekspresiku setelah mendengar jawabannya. 

“Emang kenapa, Jak?” Saskia kembali menatapku yang hanya diam menerawang memandang langit-langit kamar indekosnya.

“Aku..
takut kena alzheimer.” Ujarku lirih.

***


Aku menghitung hari. Tiga minggu kerja, seminggu libur. Kalender di ponselku sudah kutandai. Setiap seminggu liburmu dan berbagai kemungkinan kita akan pergi pun sudah kucatat. Kalau bulan ini Januari, aku sudah menandai seminggu liburmu pada dua sampai tiga bulan nanti.

Di kepalaku, aku mencatat ke mana saja jejak-jejak kita dan percakapan-percakapan di dalamnya pernah ada.

Kalau mataku terpejam, ingatanku dapat secara otomatis menunjukkan ukuran sepatumu, celana, baju, tatanan rambutmu, kumis atau jenggot tipis—yang belum sempat kau cukur, bahkan aroma dirimu, warna yang kau sukai, racikan kopi favoritmu, caramu menyalakan rokok, caramu berjalan,dan... caramu melirikku.

Pukul berapa kau akan terbangun setiap pagi, rokok apa yang akan kau beli hari ini, atau kapan kau beranjak dari rumahmu untuk ngopi. Kalau semua ini muncul di ujian akhirku setiap semester, aku bertaruh : aku pasti lulus cumlaude !

Sekali, atau..dua kali kau pernah marah di telepon.
Minggu depan, ya.” Ujarmu riang.
“Ha? Ada apa minggu depan?”
Oh,yaudah kalau lupa.”
“Eh bentar, aku cek tanggal dulu. Kenapa sih?”
Iya, emang aku gampang dilupain kan. Yaudahlah.” Kamu merajuk.
“Lho, kamu nggak ulang tahun deh. Beneran aku nggak tahu, ada apa minggu depan?”
Mas kan mau ke sana..”
Iya, aku pernah lupa. Sekali.

Waktu kelas X, nilai fisikaku tak pernah lebih dari angka 5. Alasan itu juga menjawab mengapa aku tak pernah paham dengan apa saja yang kau kerjakan dengan mesin-mesin yang selalu kutanyakan lalu berakhir dengan pernyataan:
“Ya pokoknya itu.”

Tapi kemudian aku membuka sebuah file power point milikmu yang mungkin saja—sengaja—kau tinggalkan di flashdiskmu bersama beberapa film yang kuminta. Isinya pembahasan tentang mesin, heat exchanger kalau tidak salah dan kukira itu materi presentasimu untuk suatu mata kuliah. Ada sekitar 37 slides.

Ntar kita ke Manchester, main ke Old Trafford!” 
“Jangan ih, ke Allianz Arena dulu yaaaa.”
Percakapan halu melalui telepon itu juga pernah kita ucapkan sambil merengek lalu berakhir dengan tertawa bersama. 

Beberapa plastik ukuran tanggung dan berbagai kotak berisi nota belanja yang entah sejak kapan kukumpulkan dan enggan kubuang. Kucermati mereka satu per satu. Sekali dalam seminggu. Mengurutkan tanggalnya, menimbang-nimbang apa yang berubah, harga-harga yang stabil dan kebutuhan apa saja yang belum atau sudah terbeli. Lalu menumpuknya jadi satu dalam plastik dan melakukan hal yang sama pada setiap nota belanja baru setiap minggunya.

Di atas meja kamar indekosku, sebuah paperbag berwarna gelap—cenderamata yang kudapat dari workshop dalam rangka memperingati Hari Kopi Internasional di kampus—ada setumpuk tiket kereta api di dalamnya. Tak ada satu tiket pun yang pernah kubuang. Sengaja kukumpulkan sejak aku kuliah semester perdana hingga sekarang.

Di samping kanan paperbag ada sederet buku non fiksi dari berbagai penulis favoritku. Kububuhkan tanggal pembelian dan namaku. Beberapa adalah pemberian, kutulis nama mereka—si pemberi—di samping namaku. Juga harga setiap bukunya di halaman belakang.

Kalau boleh jujur, aku ingat betul  tanggal lahir, hari jadi, dan selesainya orang-orang yang "datang" sebelum kamu. Jangan marah. Mereka juga orang-orang yang membentukku hingga sekarang ini. Lagipula mereka semua sudah lewat. 

Tenang, aku hanya cinta kamu.

Barangkali kelas VII SMP, pada bulan puasa Ibuku pernah “menyuruhku” bermain catur seharian karena mengabaikan panggilannya dan memilih bermain catur dengan adik laki-lakiku—yang selalu kalah main catur denganku. Aku sangat ingat kali pertama aku dibelikan sepeda oleh Bapak sewaktu kelas 4 SD. Betapa bahagianya "perayaan" keberhasilanku dan adik sepupuku lolos tes masuk SMP di sebuah warung makan lontong sambal tahu bersama (Alm)Mbahkung—sesuai janji beliau dulu. 

Kurasa ada banyak hal yang belum dan tidak bisa kusebutkan. Bukan karena tak bisa mengingatnya. Melainkan ada beberapa alasan tertentu yang tak boleh kamu tahu.

***
Sebentar..

Tapi aku tak pernah bisa mengingat item apa saja yang harus kubeli di warung atau di pasar sesuai perintah ibuku. Meskipun hanya dua item. Sehingga aku harus mencatatnya di kertas atau di ponsel. Aku tak becus berhitung dan memahami angka-angka. Tak ada satu pun rumus “Mafia”—matematika, fisika, dan kimia—yang dapat kuingat betul. Jadi aku harus mengulang dan memastikan semua itu lebih dari sekali atau dua kali untuk mendapatkan jawaban yang benar. Meskipun mereka semua diajarkan padaku berulang-ulang.

Aku sulit mengingat arah jalan yang bahkan sudah sering kulewati. Aku ingat tempat-tempatnya, tapi tak pernah ingat arah jalannya dengan benar. Inilah alasan mengapa aku kena tilang hingga 4x: di jalan menuju Ungaran, di salah satu perempatan Sleman, di jalan sekitar Pasar Johar, dan di Jalan Pamularsih dekat Sam Po Kong. Pertama karena ada razia, sedangkan ketiga setelahnya karena pelanggaran lalu lintas—dan ketololanku.

Aku punya banyak kenangan buruk soal arah jalan. Seperti waktu SMA kelas X sepulang sekolah, aku menaiki bus tujuan Purwodadi. Padahal rumahku di Cepu. Apa kau tahu bahwa itu arah yang berlawanan? Iya, itu terjadi sewaktu SMA. Khusus kebodohanku tentang ini akan kuceritakan nanti.

Aku sering lupa mematikan mesin pengering pakaian, biasanya berakhir dengan teguran Ibuku. Ini berlaku untuk beberapa hal lain seperti lampu kamar, obat nyamuk elektrik dan charger ponsel.

***

Alzheimer sebenarnya bukanlah penyakit menular. Risiko terkena penyakit ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Seseorang mempunyai risiko lima persen mengidap penyakit ini dan akan meningkat dua kali lipat setiap lima tahun. Sindrom ini juga disebut dengan penyakit orang tua atau pikun. Biasanya terjadi pada usia 65 tahun ke atas. 

Serangan penyakit Alzheimer ditandai dengan kehilangan daya pikir secara bertahap, dan akhirnya dapat menjadi cacat mental total. Mudah lupa pada hal-hal yang sering dilakukan dan hal-hal baru merupakan gejala awal Alzheimer. Penderita juga mengalami disorientasi waktu dan mengalami kesulitan fungsi kognitif yang kompleks seperti matematika atau aktivitas organisasi.

Ketakutanku semakin jadi setelah akhir 2012 lalu menonton film “A Moment to Remember”. Memang berlebihan kalau dipikirkan. Film ini termasuk dalam daftar film yang takkan bosan meski kutonton ratusan kali. Kau akan memahami ketakutanku kalau saja kau juga menonton film itu dan turut “masuk” dalam ceritanya.

Aku terus saja berpikir tidak semua orang punya keberuntungan seperti Su Jin. Tatkala ia divonis menderita Alzheimer, putus asa dan berkali-kali ingin menyerah, tak ada satu pun orang di sekitarnya berusaha meninggalkan.

Chul So, pasangannya tak pernah menyerah pada Su Jin. Setelah ia mengetahui penyakit yang diderita Su Jin, ia membuat memo dan berbagai catatan di semua bagian rumahnya. Mulai dari cara mengoperasikan alat-alat rumah tangga, catatan setiap momen pada foto yang terpajang di dinding, membuat petunjuk arah di lantai, bahkan sebuah kartu identitas diri yang ia kalungkan pada Su jin—kalau saja Su Jin tersesat di jalan.

Ketika penyakit ini kian parah, lalu keluarga Su Jin meminta Chul So meninggalkan Su Jin dan mencari pengganti yang lebih baik agar tak menyusahkan dirinya. Alih-alih menanggapi keluarga Su Jin, ia justru marah dan tetap bersikeras mendampingi Su Jin. 

Pada kali entah keberapa Su Jin mencoba lari dari Chul So, puncak ketegangan film ini. Chul So berhasil melacak keberadaan Su Jin, ia membawa Su Jin pada sebuah kejadian awal pertemuan mereka di minimarket dengan dibantu oleh keluarga dan dokter Su Jin, film ini berakhir bahagia.

***

Ada lagi yang terlintas ketika bicara soal ingatan, pada episode ke-221 dari One Piece juga menceritakan hal serupa terkait ingatan. Dalam semalam, saat Kru Topi Jerami terlelap—kecuali Nico Robin—terdengar bunyi aneh yang menyebabkan esok paginya semua terbangun dengan penuh kecanggungan. Seluruh kru menjadi tak saling kenal, tak lagi ingat betapa mereka pernah berpetualang di lautan bersama, menjalani saat-saat terburuk maupun terbaik bersama. Robin dan Luffy yang berhasil terhindar dari “pencurian” ingatan ini pun berusaha membawa kembali kawan-kawannya serta ingatan mereka. Meskipun sempat terjadi pertarungan antara Zoro dan Luffy, tapi semua berhasil diatasi. Mereka berhasil menemukan “pencuri” ingatan dan semua ingatan “pulang” ke memori pikiran masing-masing. Meskipun hanya dua hari mereka kehilangan ingatan, tak dapat dipungkiri betapa kehilangan ingatan dapat menyebabkan kekacauan luar biasa.

***
Credit: Pinterest

Menurutmu apa yang kupelajari dari kedua tontonan itu?

Cara mereka merawat ingatannya.

Aku terus belajar, menyimpan, membaca, mencatat, menempel, mengumpulkan, menulis semuanya. Di dinding kamar, ponsel, buku, media sosial, blog pribadi, dompet, flashdisk, laptop, kardus atau box. Menyelamatkan ingatan apapun yang dapat kusimpan.

Setidaknya suatu saat nanti kalau aku lupa entah karena apa, aku bisa “menyembuhkan diri sendiri”. Bukankah ini semua juga salah satu bentuk investasi masa depan sendiri?

Jadi, tak apa jika kuingat atau kutulis ingatan kebahagiaan atau pedihku. Tak apa jika harus kuingat orang-orang terbaik dan terbrengsek yang pernah hadir dalam hidupku. Tolong biarkan ingatanku menyimpan dan menertawakan kejadian-kejadian konyol, memalukan, bahagia, sakit, dan istimewa yang pernah kurasakan. Ijinkan juga otakku tetap mengenali berbagai macam orang baik dan bajingan.

Dengan begitu, aku takkan pernah lupa bersyukur bahwa hidupku ternyata menyenangkan—dan enak untuk ditertawakan. ☺

#30Hari30Tulisan
#17 

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah menanggapi postingan di atas!