Friday, 3 February 2017

#30 ISTIRAHAT (SEBUAH AKHIR)

 
Credit: Twitpic Delly Mayari
Dari Aan Mansyur, Tidak Ada New York Hari Ini
“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Entah karena berpisah atau karena menikah.”— Dilan

Seperti apa lagi aku harus menceritakanmu? Aku semacam kehabisan kata-kata untuk menghidupkanmu dalam setiap tulisanku. Tentu saja mozaik cerita kita masih banyak yang bisa diceritakan. Tapi aku kehilangan daya dan kata-kata untuk menuliskannya. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa bangkit.

Kukira kau adalah stasiun akhir dari serangkaian perjalanan keretaku. Juga, orang-orang bilang, kita adalah sepasang kekasih yang ditakdirkan bertemu. Katanya, tanda-tanda berjodoh adalah adanya kemiripan antara keduanya. Kita termakan omong kosong itu. Hingga mencocokkan sesuatu yang tidak cocok. Mengiyakan sesuatu yang—seharusnya—disangkal.

“Menurutmu, jika suatu saat kita putus, apa alasannya?” tanyaku suatu waktu.

“Apakah karena orang ketiga?” tanyaku lagi ketika kau terdiam tak merespon.

“Atau diri kita sendiri?”

Kau mengangguk dan mengulangi kalimatku menjadi pernyataan yang tegas.

“Kita sendiri.” tandasmu.

Lihat? Aku kembali menulismu dengan sangat nyata. Setelah ini, sepertinya aku harus segera bersiap ke salah satu tempat service laptop, jaga-jaga kalau nanti laptop ini mati secara tiba-tiba karena keyboardnya tergenang air mata. Oh Tuhan, mengapa aku menjadi sangat emosional dan melankolis begini?

Mungkin saat kau baca post ini, kau sedang duduk, berdiri, berbaring atau entah sedang apa. Lalu kau mengutuki dirimu sendiri mengapa harus mengenalku dan terlalu banyak berbagi waktu, ruang, kisah, dan materi. Atau mungkin kau sedang tertawa terbahak-bahak setelah membaca semuanya. Sebuah tawa kemenangan untuk keahlianmu menghancurkan hati seseorang. Lebih dari itu, menghancurkan hati, harapan, perasaan, dan sebagian hidupnya. Atau mungkin saja kau membisikkan kata maaf sepelan-pelannya ke udara, seolah itu kau tujukan padaku. Atau sebuah kata terima kasih—untuk seluruh perjalanan sia-sia kita berdua—pada takdir yang mempermainkan kita. Atau entah apapun yang kau lakukan sekarang, aku (mencoba) tidak peduli.

Percayalah padaku, aku tak pernah bisa marah padamu lebih dari sehari. Tidak pernah. Bahkan dalam segala perdebatan kita berdua. Sesuatu bernama “cinta” membuatku memaklumi apapun yang kau lakukan, meskipun itu mengecewakanku. Lalu aku benar-benar merasa tak ada manusia yang lebih idiot selain aku.

***

Seseorang memperingatkanku tentang sebuah ungkapan “mencintai berlebihan” yang tak pernah kuhiraukan. Aku hanya percaya pada konsep “Hanya seseorang yang paling mencintaimu yang dapat membunuhmu.” milik Bernard Batubara di salah satu cerpennya dalam buku Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri.

Kau tidak membunuhku. Aku yang membunuh diriku sendiri—sejurus setelah aku jatuh cinta padamu.

Aku bersyukur pada penghujung hubungan kita, aku telah mengumpulkan doa dari banyak orang. Memang belum sampai 40 orang, seperti kisah Langit dan Biru di novel Morra Quatro. Aku mencoba mengabarkan, agar hubungan ini meraih restu Tuhan, alam, dan manusia. Morra Quatro melalui akun twitternya mengaminkan ini. Kawan sekamarku, kawan-kawan sekelasku, seorang penjaga perpustakaan fakultas, beberapa dosen, staff tata usaha kampus, beberapa rekan kerjaku, dan beberapa orang yang tidak kukenal—yang telah membaca postblogku. Mereka semua berdoa untuk kebaikan hubungan kita berdua. Kuucapkan terima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam untuk mereka.

Sekarang, aku membongkar koleksi lagu-laguku. Berusaha menemukan lagu yang membuatku terlepas dari keadaan menyedihkan ini. Tapi otakku terus memutar ulang lagu-lagu Coldplay. Suara Chris Martin terngiang-ngiang di kepalaku. Bahkan koleksi lagu-lagu rock yang kumasukkan ke playlist tidak berhasil mengusir suara Chris Martin. Tragisnya lagi secara bersamaan mendatangkan lagu-lagu brengsek lainnya. Barangkali kalau di sekitarku ada sebuah pistol, aku akan menembak kepalaku sendiri agar berhenti memutar lagu-lagu itu. Untungnya tidak ada pistol.

Lalu, apa kau sekarang sedang bertanya bahwa ini adalah tulisan penyesalanku atas dirimu? Tidak. Kau keliru. Ini adalah ungkapan syukurku.

Sebelum ini, aku banyak membuat tulisan tentangmu. Setelah ini—entah kapan—aku juga akan menulismu lagi. Secara sadar aku sangat berterima kasih padamu atas semua yang telah kita lewati. Kau menemaniku memasuki lembaran-lembaran hidupku yang lain. Kau memberiku episode-episode yang belum pernah kumiliki. Kau mengajarkanku babak kehidupan lain dan tentang sesuatu yang lebih tinggi dari cinta: ikhlas.

Tubuhku terasa lemas. Kini aku merebahkan tubuhku di kasur. Memandangi langit-langit kamar indekosku. Menghela napas dan mengembuskannya dengan kesadaran penuh. Berkali membisikkan bacaan istighfar di udara. Mengusap air mataku yang sejak tadi membangkang setiap kuminta berhenti. Membiarkan laptop menyala dengan lagu terakhir dari Sheila On 7 berjudul Berhenti Berharap(Sebuah lagu yang kutambahkan pada daftar lagu brengsek di otakku.)

“Astaghfirllah.”


#30Hari30Tulisan
#30

0 komentar:

Post a Comment

Hai! Beritahu aku kalo kamu udah baca post ini ya! Thank's! =)