Monday, 24 December 2018

MELESTARIKAN BUDAYA BERSAMA 7th FESTIVAL KOMUKINO “JATENG REMEN"



SEMARANG – Minggu, 16 Desember 2018 kemarin acara 7th Festival Komukino yang diinisiasi oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi, FTIK Universitas Semarang telah sukses diselenggarakan. Acara ini menjadi angin segar untuk pelestarian budaya yang mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Acara 7th Festival Komukino dikemas lebih modern supaya mudah diterima oleh anak-anak muda dengan tetap mempertahankan kearifan dan kebudayaan lokal khususnya
di Jawa Tengah.

Acara 7th Festival Komukino diselenggarakan di Hutan Wisata Tinjomoyo, Gunungpati, Semarang sekaligus untuk mengenalkan Hutan Wisata Tinjomoyo ke masyarakat yang lebih luas. Dengan dihadiri banyak pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, komunitas di kota Semarang, keluarga yang menikmati libur hari minggu hingga masyarakat di sekitar Hutan Wisata Tinjomoyo Rekor USM, Andi Krida Susila, SE, MM mengatakan bahwa dengan diadakannya Festival Komukino ini artinya teman-teman mahasiswa telah sampai pada fase 4 (empat) pendidikan tinggi yaitu “Learn to live together,” bagaimana mahasiswa bisa bersinergi bersama dan mengajak lingkungan eksternal untuk bersama dengan semangat “Jateng Remen,” melestarikan kebudayaan lokal khususnya di Jawa Tengah. Andi Krida Susila, SE, MM menambahkan Universitas Semarang berkomitmen untuk lebih peduli terhadap budaya dengan mengintegrasikan bidang akademik dengan persoalan sosial di sekitar sehingga mahasiswa dapat lebih peka terhadap persoalan sosial dan budaya.

Salah satu acara yang mencuri perhatian adalah penampilan Rumah Aksara WB, pemenang Komukino Award. Tak bisa dipungkiri bahwa tingkat literasi anak di Indonesia termasuk yang terendah. Rumah Aksara WB mencoba mengangkat peringkat literasi dengan terus mengenalkan budaya melalui pendekatan yang berbeda, yaitu dengan melihat apa yang dibutuhkan anak-anak. Berdongeng, diskusi, dan workshop pembuatan wayang rotan ke desa-desa di Jawa Tengah rutin dilakukan oleh Rumah Aksara WB dengan tujuan menyebarkan virus budaya Jawa mulai dari anak usia dini.

Hendrar Prihadi, S.E, M.M, Wali Kota Semarang mengatakan mahasiswa tidak cukup untuk pintar secara intelektual saja tapi juga harus sadar terhadap persoalan sosial dan budaya yang ada di sekitar. Dengan belajar memahami fungsi sosial kita bisa menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan dan ikut membantu mereka yang membutuhkan. “Mari bergerak bersama buat Semarang menjadi lebih baik, Semarang Hebat,” tambahnya dalam sambutan di 7th Festival Komukino.

Monday, 5 November 2018

Kehadiran


Di kampusku, mahasiswa bisa mengikuti ujian hanya apabila jumlah kehadiran minimumnya 75% dari jumlah seluruh pertemuan. Aku tidak tahu bagaimana dengan kampusmu. Jumlah kehadiran jelas berpengaruh dengan nilai kita ketika yudisium. Kalau selalu hadir dalam perkuliahan, tentu mahasiswa itu siap diuji bukan? Soal nilai sudah bukan lagi urusan kampus, melainkan berada pada kemampuan masing-masing mahasiswa. Tapi setidaknya, jumlah kehadiran sungguh berpengaruh. Bukankah begitu? Tapi aku tidak sedang membicarakan aturan kampus.

Friday, 12 October 2018

Happy Birthday, Me :)

credit: vsco

Selamat ulang tahun!

It has been a great 22 years for being who I am. You did well, thank you.

Terima kasih untuk tetap tersenyum ketika hatimu berbunga ataupun terluka.

Selamat ulang tahun. I’m so proud of you. I have never been thinking that you’re so good at being fake of your feelings. It surprised me. Aku tahu kamu lelah, tapi kamu begitu kuat meski pernah tercekik sikap dan ucap yang nyaris membunuh dirimu sendiri. Nyatanya tubuhmu masih tegap, walau derai air mata tak bisa kau sembunyikan dan jalanmu tampak pincang. Tidak apa-apa.

Saturday, 8 September 2018

(Saya) Kapan Wisuda?

(credit: https://cabinetpsihologsibiu.wordpress.com)

Janjian dengan dosbing lagi.
Ngetik lagi.
Ngedit lagi.
Ngantuk lagi.
Lanjut ngetik lagi.
Ngecekin hape lagi.
Ketiduran lagi.
Bangun lagi.
Ngedit lagi.
Ketiduran lagi.
Siap-siap ke kampus lagi.
Ngeprint lagi.
Nunggu dosbing lagi.
Diselak orang lagi.
Nunggu dosbing lagi.
Bengong lagi.
Masuk ruang dosen lagi.
Bimbingan lagi.
Revisi lagi.
Sumpek lagi.
Pulang kos lagi.
*ambil napas*

Wednesday, 18 July 2018

HOW TO STAY CALM WHEN REALITY HITS YOU SO HARD


“Sometimes we create our own heartbreaks through expectations.” – anonymous

I don’t know the author of those words but it seriously can relate into my whole life (maybe for you either). Saya bisa bayangkan kekecewaan-kekecewaan itu mencuat dari kepala saya yang overthinking. Kemudian mereka menyapa saya untuk mengingat kembali soal rasa sakit dan pedihnya punya mimpi dan harapan. Tampaknya memang sudah jadi keniscayaan bahwa manusia ialah makhluk yang sepanjang hidupnya tak pernah berhenti berharap dan pupus oleh harapannya sendiri.

Barangkali begitu cara Tuhan menunjukkan betapa manusia tidak pantas bersombong diri atas rencana dan harapannya.

Monday, 7 May 2018

Wednesday, 24 January 2018

ATAP BREW AND FRIED: KEDAI KOPI NYAMAN UNTUK SEMUA KALANGAN (2/2)

Pilih sendiri kopi yang kalian mau.
Jika saya datang ke kedai ini, seorang barista dengan sangat ramah akan langsung menawarkan single origin terbaru yang ia miliki. Sambil menjelaskan detail rasa pada tiap kopinya, aroma, body, dan jenisnya. Lalu ia segera merekomendasikan kopi yang tepat untuk saya. Setelah itu saya duduk tenang sambil menunggu kopi disajikan di meja saya. Meskipun saya paling suka minuman espresso base, tapi jika saya sudah tiba di kedai ini memang tidak bisa tidak pesan manual brew coffee. Ya sayang saja rasanya kalau jauh-jauh pulang kampung tapi mencoba kopi buatan mesin juga ‘kan? Rasa kopi dari manual brew yang “manusiawi” tak pernah gagal membuat saya jatuh hati.