Friday, 10 November 2017

SOLO TRIP TO SOLO #2: [BUKAN REVIEW] YELLOW TRUCK COFFEE AND TEA

Yellow Truck Coffee and Tea
(9 Maret 2017)
Ponsel saya berbunyi, sebuah notifikasi direct message rupanya. Seorang kawan dekat yang jauh, mengirimkan sebuah undangan Kahiyang-Bobby kepada saya.

***
Halaman depan Yellow Truck yang dipotret oleh Mbak Emma
Dari tempat parkir yang lumayan luas di Yellow Truck Coffee and Tea, mata saya sudah berbinar-binar melihat kafe ini. Foyer dengan ornament lampu-lampunya yang apik dan style ruangan yang bersekat-sekat serta bar yang dipenuhi alat brewing dan aroma kopi yang nikmat. God, feels like falling love at the first sight!

Foyer menuju bar

Seorang barista cantik menyambut lalu menawarkan menu dan memberi penjelasan yang ramah tentang kopi yang ingin saya pesan. Lengkap sudah alasan saya mencintai kafe ini. Tapi apapun yang saya tanyakan, tetap saja Espresso Machiato yang saya pesan. Sedangkan Mbak Emma memesan Capuchino dan Yellow Truck Platter untuk kawan ngobrol kami hingga malam nanti.

Kafe bernuansa kuning yang segar dengan alunan music pop yang pekat nan lembut mengiringi obrolan kami hingga pukul 22.00. Pelanggan cukup ramai malam ini, di beberapa ruang sudah tak ada kursi yang tersisa. Akhirnya saya dan Mbak Emma memilih sebuah ruang kosong agar lebih leluasa bercerita dan berfoto—pastinya.

Ada beberapa majalah dan single origin yang terpampang di bar

Mural di dinding Yellow Truck tidak banyak, porsinya pas di setiap dinding. Jadi mudah bila ingin cari spot foto, karena setiap ruang dan tatanannya instagramable syeqully. Tampaknya, memang awalnya bangunan kafe ini adalah rumah lama yang didesain ulang, karena saya juga menemukan taman kecil di dalamnya.

Kopi kami mulai habis, bersamaan dengan camilan yang kami pesan karena keasyikan ngobrolin masa depan yang banyak dicampuri orang-orang demi memuaskan rasa penasaran mereka belaka. Lalu dikombinasikan dengan cerita masa lalu kami yang baiknya tak kalian dengar ceritanya. Layaknya suara yang dihasilkan gesekan kuku-kuku jari pada papan tulis. Iya, nyeri.
Menu yang kami pesan untuk kawan ngobrol hingga malam

Waktu berjalan begitu cepat, Mbak Emma ternyata cukup professional menemani orang yang tengah patah hati. Ia benar-benar mendengarkan cerita saya dan dengan sukarela menjadi penawar saya. Rasanya ada baiknya Mbak Emma ambil jurusan psikologi saja jika berminat mengejar S2. Ehe.

Jam menunjukkan pukul 21.30 tapi kami nekad memesan menu lagi sebab cerita kami belum tuntas. Kepingan-kepingan kesedihan dan kebahagiaan yang kami bagi masih belum seluruhnya luruh. Jadi kami memesan secangkir red velvet latte, french fries, dan vanilla latte sebelum beranjak pulang. Sayang ponsel kami baterainya habis, jadi lupa tidak mengambil gambarnya.
Beberapa single origin yang dimiliki cafe ini: Bali Kintamani, Aceh Gayo, Java, dan satu lagi nggak kelihatan aduh maafin :(
Just so you know, you have to come here! Trust me, enjoy your perfect moment with your coffee for hours. Ngopi di Yellow Truck sungguh bikin betah. Pertama, baristanya ramah dan baik banget. Kedua, espressonya enak, single originnya banyak. Ketiga, design interiornya bikin jatuh hati dan nggak terlalu “ramai” , sebab ada beberapa kafe yang kebanyakan ornament dan bikin mata pusing. Keempat, harganya manusiawi. Kelima, musiknya nggak berisik.

***

Di cerita sebelumnya, saya berharap segera mendapat undangan “ngopi” darinya. Sehingga saya bisa ke Solo lagi untuk wisata ngopi dan sebuah alasan “bertemu kawan lama”. Lalu usai masa praktik mengajar kemarin, pertengahan Oktober tepatnya, saya mendapat sebuah pesan darinya. Pertanyaan semacam:

“Jak, kamu kapan ada waktu? PPL kapan berakhir?”“Kalau tanggal 5 November, apa sudah selesai?”“Pastikan 5 November datang ke Solo ya! Aku mau kawin!”

Saya melompat dan melihat kalender segera. Tapi saya sedang dalam masa KKN di sebuah desa di Kendal. Ya Tuhan, apa bisa datang ke Solo…

Sedangkan saya sudah berjanji untuk datang. Ya, berusaha datang. Apa pun, dan bagaimana pun caranya, saya harus dapat ke Solo pada tanggal tersebut.

***
Mbak Emma tampak samping. Ehe.
Tapi hari ini, saya meminta maaf pada Mbak Emma. Saya meminta maaf dari lubuk hati terdalam, betapa saya tidak dapat menepati janji saya untuknya. Kecerobohan saya mengacaukan semuanya. Tidak, saya tidak melupakan tanggal itu. Melainkan ada masalah terkait transportasi dan waktu yang tidak becus saya kelola hingga semuanya berantakan.

Lain kali, sungguh, izinkan saya berkunjung ke Solo lagi! Mari kita double date kalau perlu! Namun sebelum itu..

Selamat menikah, Mbak Emma. Semoga hari-hari kalian berdua semakin bahagia, penuh berkah, dan menyenangkan. Apakah akan ada buku baru setelah ini? Beritahu aku. :p
***
Ngomong-ngomong setelah itu foto saya direpost oleh official instagramnya Yellow Truck Coffee and Tea. 😍

Nah,seperti yang kalian lihat, ini bukan sebuah review dari Yellow Truck Coffee and Tea. Saya hanya bercerita tentang cerita saya bersama kawan ngopi sekaligus kawan blogger saya: Mbak Emma.


Terima kasih sudah membaca. 😁

1 comment:

  1. Since the admin of this web page is working, no doubt very
    quickly it will be well-known, due to its quality contents.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menanggapi postingan di atas!