Monday, 7 May 2018

[BUKAN] CARA MENANG BANYAK DALAM HUBUNGAN PERCINTAAN

credit: Pinterest

“Eh, ternyata si I pacaran sama si P ya? Gue setengah kaget dan nggak rela sih, si I kan ganteng masa dapet pacar kayak P.” Ujar seorang kawan di sebuah group chat.

Beberapa waktu lalu di sebuah group chat saya dan kawan-kawan ghibah saya sedang ramai membicarakan salah satu pasangan baru di kampus. Seorang kawan saya memulai obrolan di group.

Saya kenal baik dengan kedua orang yang sedang dibicarakan kawan saya ini. Bahkan perempuan yang “disayangkan” menjadi pacar si laki-laki ini sangat dekat dengan saya. Tentu saja saya bersitegang dengan kawan saya di group chat itu. Bagaimana pun apa urusan dia (atau saya) repot betul mengatur harus dengan siapa seseorang berpasangan?

Tapi untungnya ketegangan mereda malam itu juga. Meskipun di otak saya masih berputar-putar banyak pertanyaan ganjil soal komentar orang-orang pada pasangan lain.

***

Sering dengar atau baca komentar orang lain soal “menang-menangan” atau “untung-untungan” dalam hubungan nggak? Lucunya, komentar itu ditujukan untuk pasangan lain—yang bahkan tidak mereka kenal secara personal. Alih alih ikut bahagia dan mendoakan baik, orang itu malah menghakimi dan terus ribut soal segala macam persoalan yang—sekali lagi—BUKAN URUSANNYA.

“Wah enak cewek lu cakep ya. Menang banyak!”
“Buset, itu pacarnya yang digandeng? Kresek indomaret bisa dapet pacar ganteng gitu ya.”
"Yeee, kamu mah enak punya pacar yg pinternya kebangetan. Jadi enteng ngerjain tugas kampus."
“Bentukan kayak tutup fresker gitu pacarnya tajir mlintir.”
“Beruntung banget itu ceweknya dapet cowo yang....blablabla talking full of shit and sounds like you are a satan newborn

Dan berbagai komentar miring lainnya seperti di atas atau bahkan lebih sadis. Ada apa ya dengan orang-orang itu?

***

Saya berpikir keras untuk memahami judul yang saya tulis di atas. Akhirnya saya menemukan arti kata “menang” di KBBI:

menang/me·nang/ v 1 dapat mengalahkan (musuh, lawan, saingan).

Let me say menang banyak artinya dapat keuntungan lebih banyak (dari pihak lain). Saya jadi berpikir kalau ada yang menang, berarti ada yang kalah dong? Lantas, siapa yang menang banyak dan siapa yang kalah banyak?
Much better love story than Twilight.
(pardon the ciggarete please)
Ibu dan Bapak saya adalah salah satu pasangan terbaik yang pernah saya temui. Menikah lebih dari dua dekade dan dikaruniai 4 anak—dengan ciri dan sifat sangat identik dengan mereka. Tentu saja mereka juga bukanlah pasangan sempurna. Romantisme klasik, cekcok dan adu mulut—yang pernah saya saksikan, ada juga masa-masa kalut dan sulitnya hidup.

Selama itu pun saya belum mampu mengidentifikasi siapa yang menang banyak dan kalah banyak. Ibu nggak pernah menghardik Bapak dengan ucapan merendahkan. Betapapun marahnya Ibu, tak pernah sekali pun berhenti menyiapkan makanan untuk Bapak. Begitu juga Bapak, tak pernah saya dengar Bapak marah hingga merendahkan Ibu atau berbuat kasar padanya secara tindakan atau pun lisan.

Tidak ada yang merasa menang banyak atau kalah banyak. That’s love.

Tapi namanya mulut orang memang bukan kita yang nyetting sih. Pokoknya ya pasti ada saja orang – orang yang waktu dan pikirannya cukup luang untuk ngata-ngatain hidup orang lain. Semoga kita semua terhindar dari sifat – sifat semacam itu.

***

Sekarang saya sedang memulai awal yang baru dengan seseorang yang saya yakini sama cintanya dengan saya. Kepalang senang ternyata ada juga komentar yang datang.

“Wah, lu menang banyak ye, Jak. Beruntung banget lu.” (Saya tidak tahu, apa dia juga mendapat ucapan senada atau tidak)

Saya juga tidak tahu di bagian mana saya menang banyak dari dia—sebagai pihak yang dikalahkan. Karena setahu dan seingat saya, saya tidak menjual apapun pada dia supaya saya dapat untung. Lagipula orang-orang memang tahunya sebatas apa yang mereka lihat, jadi ya sudah. Meskipun ternyata sakit juga sih dapat omongan seperti itu.

Sekali lagi, mulut orang memang bukan kita yang nyetting. Semua pasti paham betul kalau setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kelebihan waktu untuk nyinyirin orang lain tampaknya bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, sih. Hehe. Mari kita manfaatkan panca indera kita untuk hal-hal yang lebih positif dan menenangkan.

Lalu, untuk seseorang yang lengannya begitu hangat, saya mau menyampaikan:

“Aku emang nggak ada apa-apanya. Tapi kalau kamu ada apa-apa, aku ada.” — @adimasnuel 

Doain. Hehe. 

2 comments:

  1. I wanted to follow up and allow you to know how considerably I liked
    discovering your blog today. I'd personally consider it a honor to work at my office and
    be able to operate on the tips provided on your web-site and also engage in visitors' remarks like this.

    Should a position regarding guest author become available at your end, you should let me know.

    ReplyDelete
  2. Тhanks , I have recentlү been looҝing for info about
    this topic for a long time and yoսrs is the best I һave came upon till now.

    But, what concerning the conclusion? Are you positive about the source?

    abօut his : Top 5 Funny Encrʏptіon Sⲟftware
    Quotes & Are You How Тo Encrypt A Password For Freeіng
    Thе Best You Can? Thгee Signs Of Failure

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menanggapi postingan di atas!