Saturday, 21 January 2017

#19 SUPERHERO

Credit: Pinterest

"Jika pemenuhan kebutuhan akan suatu jenis barang dilakukan secara terus-menerus, maka rasa nikmatnya mula-mula akan tinggi, namun semakin lama kenikmatan tersebut semakin menurun sampai akhirnya mencapai batas jenuh." 

Itu yang dikatakan oleh Hermann Heinrich Gossen melalui karya ilmiahnya Enwicklung der Gesetze des Menschlichen Verkers und die Darausfliessenden Regeln fuer Menschliches Handeln. Sewaktu SMA kelas X, kupelajari dan kukenal dengan Hukum Gossen 1. Sebenarnya ada Hukum Gossen 2, tapi aku tak ingin membahasnya di sini. 

***

Manusia memiliki banyak titik kelemahan dan kelengahan. Di antaranya ketika sudah mendapatkan sesuatu yg diinginkan, awalnya akan sangat menyenangkan. Tapi ketika sesuatu itu didapatkan setiap waktu hingga jadi rutinitas, entah bagaimana kenikmatan dan kesenangannya akan terasa menurun. Bahkan bisa terasa jenuh.

Baiklah. Aku setuju dengan Gossen.

Ketika pertama kali aku dibelikan sepeda oleh Bapak, aku selalu bepergian dengan sepedaku. Bahkan meski sekadar ke warung dekat rumah. Setiap hari aku merasa bahagia bisa mengayuh sepedaku ke mana pun aku ingin pergi. Rasanya benar-benar istimewa. Hingga hal itu berlangsung cukup lama. Aku semakin lelah, karena sepedaku tak bagus lagi, rantainya mudah putus, keranjangnya sudah banyak yang peyot, sadelnya tidak empuk lagi, dan suara kayuhannya pun bisa sangat mengganggu pendengaran.

Benar. Aku mulai bosan dengan sepedaku yang sepertinya sudah terlalu tua. Aku butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak membosankan seperti sepedaku saat itu. Sesuatu yang berbeda dari sepedaku. Pokoknya aku mau sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak membuatku bosan.

Atau sebenarnya aku hanya butuh jeda?

Pertama kali aku masuk kuliah, aku dapat membayangkan betapa hari-hariku pasti akan sangat menyenangkan. Tidak ada lagi ulangan harian seperti di SMA. Tak lagi pakai seragam atau sepatu hitam bertali. Tidak harus dijemur di lapangan kalau tak pakai atribut lengkap saat upacara bendera. Sungguh, rasanya seperti terbang bebas di udara! Aku tak sabar menjalani hari-hari baruku di kampus!

Tapi, setelah aku sampai di titik ini. Kurasa tak jauh beda dengan sebelumnya. Semakin lama, kuliah hanya memberiku kekesalan dan rutinitas yang membosankan. Setiap hari aku punya jadwal, masuk kelas, mendapat tugas, pulang kos dan segera menyelesaikan tugas. Lalu melakukan presentasi, konsultasi dengan dosen, mengatur jadwal pulang, mengatur uang jajan, mengecek stok makanan, belanja bulanan, bayar listrik dan sebagainya. Semua kesibukan selama aku kuliah hingga saat ini, membawaku pada titik jenuh yang tak kumengerti mengapa terus berulang tanpa henti.

Aku lupa betapa aku pernah punya euforia kuliah di dalam otakku dan pernah benar-benar merasa bahagia karena itu.

***

If you always make time for your loved one, why don't you make more time for yourself? — Shasy Pashatama (@pashatama)

Aku berjalan menjauh dari Stasiun Semarang Tawang setelah menitipkan tas besarku di salah satu petugas. Hanya membawa sling bag warna pastel dengan dompet, ponsel, dan earphone, aku ingin "lari" dari keriuhan duniaku sendiri.

Flight mode untuk ponselku sudah kuaktifkan. Sekarang aku benar-benar berjalan sendiri. Melihat jalan raya yang kian ramai. Langkahku menuju Taman Srigunting. Aku ingin mencari seorang bapak penjual kopi yang dulu pernah tanpa sengaja bertemu di sekitar Taman Srigunting. 

Spiegel Bar and Bistro

Pelan-pelan aku berjalan menuju sebuah HIK di dekat Semarang Contemporary Art Gallery untuk mengisi perut. Biasanya, bapak itu akan melewati area Kota Lama untuk menjajakan kopi robusta kesukaanku. Setelah lima belas menit berlalu dan ia tak kunjung lewat, kuputuskan untuk singgah di sebuah tempat ngopi favoritku.

Spiegel Bar and Bistro
Aku berjalan menuju Spiegel Bar and Bistro. Duduk seorang diri di samping pintu tepatnya di dekat rak tabloid dan majalah dan jendela kaca besar yang langsung menghadap jalan, sehingga aku dapat menatap situasi jalan di area Kota Lama—masih dengan harapan barangkali bapak penjual kopi itu melintas.

Secangkir Espresso datang padaku. Seteguk tandas. Membuatku merasa seperti terlahir kembali.

Espresso for better life.

Keretaku berangkat pukul 17.10 sore. Masih ada waktu lebih dari satu jam untuk menikmati hiruk pikuk kota seorang diri. Setelah meminta bill, dan membayarnya, aku melangkah lagi menuju Kantor Pos Kota Semarang. Berjalan sendiri melewati berbagai hal yang sebelumnya tak pernah kujumpai setiap hari ternyata tak buruk. Aku merasa seolah kembali hidup.

Aku membeli dua kartu pos. Hehe. Aku juga tidak tahu mau kuapakan kartu pos ini nantinya. Pada zaman ketika orang-orang begitu mudah berkomunikasi hanya dengan berbekal ponsel dan pulsa, aku merasa keberadaan kantor pos mengalami pengabaian. Tapi yang jelas sekarang aku sudah keluar dari Kantor Pos Semarang dengan dua kartu pos dan perangko di dalam tasku. Nanti kuceritakan apa yang akan kulakukan dengan dua kartu pos ini.

Selepas itu, aku berjalan lagi menuju Stasiun Tawang ditemani "One Day" dari Kodaline dan segala beban pikiran yang lambat laun memanggilku sekali lagi. Seolah meminta untuk dijamah dan tak dibiarkan mengendap bersama harapan-harapan klasik yang isinya tentang keinginan bersama dengan seseorang.

Ide-ide yang berkaitan dengan "berdua" dan "keabsahan cinta" yang sempat terlupa dalam dua jam terakhir, kini mencuat lagi. Kodaline sialan! Tapi aku tak menghentikan lagu itu. Kubiarkan berputar bersama segala pikiran bosan di kepalaku. Kekesalanku memuncak sebelum langkahku tiba di stasiun.

Aku ingin berteriak. Bicara pada diriku sendiri untuk "kembali" dan menghidupi kebahagiaan yang seharusnyaa berdiri di atas kaki sendiri. Bukan menggantungkannya pada orang-orang yang tak mengerti arti berharap dan berjuang seorang diri.

***

Tak apa jika aku jenuh dan mengeluh. 

Bukankah Gossen bilang itu cukup manusiawi? Sekarang, tolong maklumi jika setelah beberapa lama ditempa beban hidup yang datangnya dari berbagai arah lalu aku merasa perlu mengeluh jenuh. Kuharap kamu sedikit mengerti, aku sedang menahan serangan badai di diriku sendiri. Jika kamu tak mau mendengar keluhku, setidaknya tolong peluk aku dan katakan betapa pun juga kamu akan selalu menemaniku. Itu saja. Selebihnya biar kuselesaikan sendiri.

Lalu, kamu tak perlu khawatir jika jenuhku tak kunjung reda. Kukira memang aku hanya butuh jeda. Pergi seorang diri untuk mencari buku, musik, dan kopi. Kamu pasti tahu ke mana tempatku lari untuk menyelamatkan diri setelah semua yang telah terjadi.

Buku, musik, dan kopi. Mereka selalu berhasil membuatku merasa seolah terlahir kembali. Menenangkan badai tanpa henti ini, memanggil semangatku lagi, dan mengajakku bersyukur atas semua yang Tuhan beri.

***

The best person who can save you is your own self. We are our own superhero. — Kusumandaru (@aan__)

Keretaku sudah datang. Mestinya aku patah hati karena tak bertemu bapak penjual kopi, tapi rasanya itu bukan lagi masalah atau sesuatu yang harus disesali. Kali ini aku memang tak mendapatkan kopi yang kucari, tapi aku berhasil menemukan jalan kewarasanku kembali.

Terima kasih setulusnya dari diriku untuk aku sendiri.
:)

#30Hari30Tulisan
#19

0 komentar:

Post a Comment

Hai! Beritahu aku kalo kamu udah baca post ini ya! Thank's! =)