Thursday, 18 January 2018

CEPUBACABUKU: METAMORFOSA RUMAH BACA PERTAMA DI CEPU 2/2

Rumah baca Cepu Baca Buku di Nglajo
Tidak. Saya tidak jadi mengencani penggagas CEPUBACABUKU. Terima kasih untuk tidak berpikiran macam-macam tentang saya.
There are two types of people. Pertama, yang bahagia karena uang. Kedua, yang bahagianya nggak ada kaitannya dengan uang.”

Kalau kawan-kawan datang ke Cepu, tidak jauh dari Kolam Renang PPSDM Migas, masuklah terus ke sebuah gang, dari Mushala Al-Kautsar belok kiri sekitar 20 meter kalian akan melihat sebuah rumah yang teduh. Di sanalah rumah baca CEPU BACA BUKU berada.

Mbak Indah sedang melatih anak-anak menari ketika saya sampai di rumahnya, ramai dan hangat. Sebuah rak buku besar dan beberapa box berisi buku berjajar di bawahnya. Beberapa buku ditumpuk belum tertata rapi seperti yang lainnya. Atau belum mendapat tempat di rak lebih tepatnya.

***

Menurut Duta Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia—Najwa Shihab—bahwa minat baca masyarakat Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara. Hal ini merujuk dari studi Most Littered Nation in The World 2016 yang dilakukan 2016 lalu. Sementara menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0001%, berarti dari 1000 orang Indonesia  hanya 1 orang yang rajin membaca.

Padahal di kota-kota besar seringkali kita jumpai rumah baca, perpustakaan umum, toko buku yang jauh lebih lengkap atau tempat-tempat nongkrong yang konsepnya tak jauh dari buku. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan yang ada di kota saya. Saya harus ngubek-ubek supermarket—yang kini tersedia toko buku di dalamnya—tapi pun koleksinya tidak cukup update, atau cari di toko buku dan alat tulis—yang rata-rata bukunya sudah berdebu, ujung-ujungnya adalah membeli di toko buku online yang ongkos kirimnya tak jauh beda dengan harga bukunya. Tampaknya benar, buku-buku itu tidak dapat tinggal tetap di Cepu. Selalu sepi pengunjung, sendu, dan menyedihkan.

Hobi membaca buku di kota ini rasanya menjadi sangat mahal.

Lalu datanglah seseorang dengan kegigihannya—kalau tidak bisa dibilang nekad—keluar dari pekerjaannya, hidupnya yang stabil, dan melepaskan riuh Ibukota demi mengikuti kata hatinya: mendirikan sebuah Rumah Baca di Cepu, kampung halamannya.
Mbak Indah Salimin

Pertanyaan saya: mengapa rumah baca? Di kota yang masyarakatnya tampak lebih suka nongkrong di angkringan, kafe, atau makan di restoran ketimbang membaca ini mengapa nggak membuka usaha kuliner yang belum hits di Cepu, atau usaha mendapatkan atine dhek’e. Ehe.

“Mbak Indah kok berani-beraninya mendirikan rumah baca di Cepu ini motivasinya apa?”

Sejenak Mbak Indah tertawa, lalu ia bercerita.

Rumah baca ini tidak semata tercipta begitu saja. Sebelumnya, Mbak Indah yang bekerja di Jakarta mendapat telepon dari salah satu keponakannya yang mengatakan kurangnya guru Bahasa Inggris di sekolahnya. Salah satu penyebab Mbak Indah terusik dan merasa ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi kota tempat ia tinggal. Dengan mantab, Mbak Indah, Mbak Vira, dan Mbak Hertin serta dibantu kawan-kawan lainnya mendirikan rumah baca ini di Cepu. Sayang sekali saya tidak bertemu dengan Mbak Vira dan Mbak Hertin yang turut berkontribusi dalam langkah awal berdirinya Cepu Baca Buku. 

Buku-buku diperoleh dari kepemilikan pribadi dan juga donasi dari berbagai donatur. Sasarannya jelas anak-anak dan remaja yang hari-hari mereka jauh lebih dicurahkan untuk gadget dan game. Mbak Indah ingin mematahkan asumsi bahwa yang rajin baca itu cuma anak-anak pinter, berkacamata tebal, culun, dan nggak gaul.

“Semua orang boleh membaca! Membaca nggak cuma hobi, tapi bisa jadi kebiasaan kita semua. Aku yakin masih banyak yang suka baca di Cepu.” Tandasnya.

Mbak Indah dan kawan-kawan akhirnya mulai menggelar lapak buku di public area. Titik yang ia bidik adalah Taman Kilometer 0 Pertamina Cepu. Reaksi masyarakat yang belum begitu familiar dengan lapak buku dan taman baca semacam itu tidak menyurutkan niat Mbak Indah dan kawan-kawan untuk terus mengembangkan budaya baca di Cepu.

Keyakinannya masih sama, anak-anak di Cepu masih ada yang suka membaca, masyarakat Cepu masih banyak yang suka buku.

Akhirnya secara rutin setiap Sabtu sore lapak buku gratis digelar di Taman Kilometer 0 Pertamina Cepu, dan setiap Minggu pagi masyarakat Cepu dapat membaca gratis di sekitar Lapangan Atletik PPSDM. Sedikit demi sedikit masyarakat mulai terbiasa dengan adanya lapak Cepu Baca Buku. Jika awalnya yang tertarik adalah anak-anak dan remaja, kini pembaca buku mencakup orang-orang dewasa seiring dengan semakin bertambahnya donasi buku yang ditampung.

***

Setiap menggelar lapak buku, Mbak Indah dibantu beberapa kawan relawan lainnya membawa 2-4 box buku dengan genre beragam. Kita dapat membacanya atau meminjamnya GRATIS! Cukup dengan meninggalkan kartu identitas (KTP, Kartu Pelajar, SIM dll) dan mengisi data diri di form peminjaman. Durasi peminjaman buku sampai dua minggu lho! Pengembalian dapat dilakukan setiap hari Sabtu-Minggu atau bisa langsung ke rumah baca. 

Majalah, novel, ensiklopedia, buku impor, buku lawas, buku terbaru tertata di rak besar yang ada di rumahnya. Tak jarang pengunjung datang untuk meminjam atau mengembalikan buku. Karena koleksi bukunya semakin beragam, Mbak Indah merasa perlu menata buku-buku yang belum dapat tempat di rak.

Dia ingin menambahkan rak baru untuk buku-bukunya agar lebih tertata, selain itu ia berharap dapat segera “mengakali” ruang baca yang lebih proper untuk setiap pengunjung yang datang.

Selain segala kemudahan yang diberikan untuk pembaca, Cepu Baca Buku juga seringkali mengadakan event-event keren lho, mulai dari diskusi bareng, bedah film, bedah buku dan berbagai give-away buku rutin melalui akun instagramnya. Kawan-kawan bisa bergabung dan mengikuti event tersebut yang selalu diumumkan melalui akun instagram. 

***

Sungguh, harusnya kalian datang lebih awal! Tapi bagaimanapun, terima kasih untuk Mbak Indah, Mbak Vira, dan Mbak Hertin serta seluruh relawan Cepu Baca Buku. Semoga rumah baca ini semakin berkembang dan semakin banyak yang tertarik membaca.*pelukciumkecupjauh*


5 comments:

  1. Keren ya kegiatannya. Yg pasti usaha dan niatnya itu yg luar biasa. Yg bgini harua didukung, minimal didoakan biar makin lancar dan barokah. Sayangnya saya jauh di Bandung, jadi ga bs dtg langsung. Nanti mau liat ig nya aja deh. Liputan yg bagus 👍😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kak Dipiiii..
      Silakan mampir kalau sedang ada di Cepu. Eheheheh

      Delete
  2. Sungguh keren Mbak Indah Salimin mendirikan Cepu sebagai sarana membaca. Gue juga lumayan resah dengan minat baca di Indonesia, sempat gue bahas di YouTube gue, dan mungkin ini belum seberapan dengan orang-orang yang sudah bergerak secara langsung. Salut~

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menanggapi postingan di atas!